
Bagi mata orang awam, sekeping keramik dan sekeping granit porselen mungkin terlihat identik saat sudah terpasang di lantai. Keduanya keras, dingin, dan memiliki motif yang indah.
Namun, jika kita membelah keduanya dan melihatnya di bawah mikroskop, kita akan menemukan struktur molekul yang sangat berbeda.
Perbedaan kekuatan, daya tahan, dan harga antara keduanya bukanlah hasil dari branding semata, melainkan konsekuensi langsung dari proses manufaktur yang sangat kontras.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik pintu pabrik? Mengapa suhu dan tekanan bisa mengubah tanah liat menjadi material yang hampir sekeras batu alam? Berikut adalah elaborasi mendalam mengenai sains di balik pembuatan keramik dan granit.
1. Komposisi Material: Resep di Balik Kekuatan
Segalanya dimulai dari bahan baku. Keramik tradisional biasanya dibuat dari campuran tanah liat merah atau putih (lempung), pasir, dan sedikit mineral tambahan. Tanah liat ini memberikan fleksibilitas, tetapi memiliki kadar air dan kotoran organik yang lebih tinggi.
Sebaliknya, granit (porselen) menggunakan “resep” yang jauh lebih murni dan padat. Komposisi utamanya adalah pasir silika, feldspar, dan tanah liat kaolin yang sangat halus.
Feldspar berperan sebagai “perekat” kaca yang akan mencair saat dibakar, mengisi setiap celah udara di antara butiran silika. Penggunaan bahan baku yang lebih murni ini memastikan bahwa hasil akhirnya memiliki struktur yang jauh lebih seragam dan tidak memiliki titik lemah internal.
2. Tekanan Press: Padat Tanpa Rongga
Sebelum masuk ke tungku pembakaran, bahan-bahan tersebut dibentuk menjadi kepingan. Di sinilah perbedaan besar kedua muncul. Keramik biasa diproses dengan tekanan mesin yang standar agar bentuknya stabil.
Namun, untuk memproduksi granit porselen, pabrik menggunakan mesin pres hidrolik berkekuatan ribuan ton. Bubuk material ditekan begitu kuat hingga hampir semua rongga udara hilang sebelum proses pembakaran dimulai.
Hasil dari tekanan tinggi ini adalah kepadatan yang luar biasa. Inilah alasan mengapa granit terasa jauh lebih berat dibandingkan keramik meskipun ukurannya sama.
Kepadatan ini juga menjadi alasan mengapa granit memiliki daya serap air yang sangat rendah—karena secara fisik memang tidak ada ruang bagi air untuk meresap masuk.
3. Suhu Pembakaran: Keajaiban Vitrifikasi
Suhu adalah pembeda utama. Keramik dibakar dalam kiln (tungku raksasa) dengan suhu sekitar 800°C hingga 1.000°C. Pada suhu ini, tanah liat mengeras, tetapi partikel-partikel di dalamnya belum sepenuhnya menyatu menjadi satu massa kaca yang solid. Itulah sebabnya keramik masih memiliki sifat porus.
Granit porselen dibakar pada suhu yang jauh lebih ekstrem, seringkali melebihi 1.250°C. Pada titik suhu ini, terjadi proses yang disebut Vitrifikasi. Mineral feldspar mencair dan mengalir di antara butiran silika, kemudian saat mendingin, ia membeku menjadi substansi yang keras seperti kaca.
Proses vitrifikasi inilah yang mengubah bubuk tanah menjadi material yang hampir tidak dapat ditembus air dan sangat keras.
Jika keramik dibakar pada suhu setinggi itu tanpa resep yang tepat, ia akan hancur atau meleleh; sebaliknya, jika granit dibakar pada suhu rendah, ia tidak akan pernah mencapai kekuatan puncaknya.
4. Daya Serap Air dan Implikasinya
Perbedaan proses pembakaran ini menghasilkan angka yang sangat krusial dalam dunia konstruksi: tingkat porositas.
- Keramik: Biasanya memiliki daya serap air antara 3% hingga 10%.
- Granit Porselen: Memiliki daya serap air di bawah 0,5%.
Mengapa angka ini penting? Bayangkan di musim hujan atau di area lembap. Keramik yang menyerap air bisa mengalami pemuaian. Di daerah dingin, air yang terperangkap di dalam keramik bisa membeku dan pecah.
Di iklim tropis seperti Indonesia, daya serap air yang rendah pada granit memastikan bahwa noda cair tidak akan meresap ke dalam kepingan, sehingga lantai lebih higienis dan tidak mudah berlumut atau berbau.
5. Ketahanan Terhadap Beban dan Goresan
Karena struktur granit yang sudah mengalami vitrifikasi dan ditekan kuat, ia memiliki modulus of rupture (kekuatan patah) yang jauh lebih tinggi. Granit porselen mampu menahan beban ribuan kilogram per sentimeter persegi, menjadikannya ideal untuk area publik, showroom mobil, atau gudang.
Keramik, meski kuat untuk diinjak manusia, cenderung lebih mudah retak jika terkena benturan benda jatuh karena struktur dalamnya yang lebih “longgar”.
Dari sisi goresan, lapisan porselen pada granit juga lebih tahan lama. Karena motif pada granit masa kini sering kali meresap lebih dalam atau bahkan menggunakan teknik full body (warna sama dari atas sampai bawah), goresan kecil di permukaan tidak akan langsung mengekspos warna tanah liat yang berbeda, seperti yang sering terjadi pada keramik berglazur murah.
Perbedaan antara keramik dan granit bukan hanya soal penampilan luar, melainkan soal integritas struktural. Granit adalah hasil dari resep mineral yang lebih murni, tekanan mesin yang lebih kuat, dan panas tungku yang lebih ekstrem.
Memilih granit berarti Anda memilih hasil dari proses sains yang memastikan lantai Anda tetap utuh, higienis, dan kokoh untuk waktu yang sangat lama.
Referensi artikel: https://kobin.co.id/
Redaksio Menarasikan, Mencerahkan